Showing posts with label reblog. Show all posts
Showing posts with label reblog. Show all posts

Thursday, 23 May 2013

Jadi Au Pair bisa keliling dunia !!?


Apa sih Au Pair (baca : oper) itu ??
Saya juga baru aja mendengar kata - kata itu, Au Pair adalah bahasa Perancis yang saling menguntungkan. Singkatnya adalah orang yang ikut dalam satu keluarga sebagai bagian dari keluarga tersebut. Ikut jadi bagian keluarga ?? tentu saja tidak dengan gratis kita bisa menjadi baby sitter, asisten rumah tangga ataupun membantu kegiatan rumah tangga disana sesuai permintaan dari keluarga yang akan ditinggali. Berbeda dengan TKW yang dari awal berstatus sebagai pekerja bukan sebagai bagian dari keluarga tersebut, jika TKW/TKI sudah di atur oleh pemerintah, Au Pair adalah kelompok tersendiri. Peserta Au Pair bisa berkoordinasi dengan keluarga yang ditinggali mengenai gaji, tempat tinggal, visa, tiket PP ataupun apakah bisa disambi dengan kuliah.

Saturday, 17 November 2012

Ad Infinitum: Sebuah Risalah Tentang Ruang dan Waktu


Surat Milkhan tentu saja adalah pokok penting yang aku tunggu-tunggu selama sebulan lebih ini. Ruang, Waktu dan falsafah-nya. Aku ingin memuji surat Milkhan yang puitik itu, yang mampu dengan segala keragu-raguannya menggiringku merasuk dalam imajinasinya sendiri. Aku tak hendak berbusa-busa, karena pada dasarnya, semua ini akan diawali dan diakhiri oleh tesis Milkhan yang biasa-biasa saja tapi cukup cerdas dan filosofis (meski tak harus dipaksakan):

“Dalam keterlambatan dan ruang yang samar, selalu ada harapan yang terselip”

Bersama kata-katamu di atas, Milkhan, waktu dan ruangku memadat. Waktumu terasa seperti waktu Leibniz. Seolah-olah semuanya harus kau ukur. Seolah-olah semuanya bisa kau susun dengan rapi. Setelah ini yang itu. Dan setelah itu pasti yang itu lagi. Setelah ini apalagi. Setelah itu apalagi. Linier. Seolah-olah ia runtut dan harus sesuai dengan tatanannya. Disiplin. Mapan. Tertib. Apalagi?

Aku pandir membacamu tapi aku suka dan menikmati. Karena di balik ekspresimu yang aneh itu, masih ada optimisme yang jujur walaupun ia ditempatkan pada titik yang paling genting yang cenderung konvensional. Dan kenapa aku masih menyukainya? Ketahuilah, Milkhan, waktumu menggelantung. Tak jelas. Di tengah. Dan aku suka segala yang menggantung. Aku suka sesuatu yang tak bisa terselesaikan. Aku suka keabadian yang dibawanya dalam misteri tersendiri.

Aku akan mengudari kata-kata absurd “yang terselip” itu, meski kau nampaknya belum cukup sadar mampu menulis kata-kata canggih ini: Harapan, waktu sisa, dan keterlambatan. Milkhan, bukankah waktu bagimu seperti lilin yang mencoba ingin menyala tapi ragu-ragu dan bimbang. Waktumu ketakutan karena kau pikir ia takkan bisa mati. Waktu hanya mati saat tubuhmu tak mampu lagi menjadi substansi atau ruang bagi jiwa yang mendekam. Waktu itu ada pada tubuhmu, waktu ada karena tubuhmu masih menjadi ruang. Jadi mengapakah kau masih harus selalu memperlambat dirimu?

Di dalam angka kau tak akan menemukan waktu, kau hanya akan dikejar-kejar oleh persepsimu tentang waktu. Angka-angka itu diciptakan seringkali hanya untuk memburu-buruimu. Ia seperti samurai yang siap dengan sekali tebas, memampuskan jiwa kita di tangannya.

Waktu jadi bom saat ia ditunggangi kekinianmu. Yang seakan mempercepat segala-galanya. Dan bom itu seolah telah bertenaga nuklir saat ini, kau tak bisa mengendarai waktu sebagai substansi eksternal bagi tubuhmu yang ringkih itu, Milkhan. Waktu menguasaimu justru saat ia tak tergenggam. Maka kau merasa utuh saat ada yang terselip di dalam waktumu. Begitukah?

Mengapa kau masih merasa dan memercayai kata terlambat, Milkhan? Sementara di balik kata terlambat itu, waktu memburu seperti mesin. Mesin yang siap melindasmu kapan saja. Aku tak ingin memberi nasihat, hanya aku yakin, waktu bergerak saat kau bergerak. Ia tak bisa lepas dari tubuhmu, substansi aneh yang kau tempati itu. Sehingga kau, pada suatu waktu akan mengeluh, kapan waktu ini berhenti sebentar saja, dan membiarkanmu berlama-lama? Itulah tragedi yang akan menimpamu jika kau begitu tersiksa dalam mengejar waktu yang tak akan mungkin pernah kau genggam. Lalu apa yang akan terjadi? Kau akan bunuh diri, Milkhan. Itulah manusia, membunuh dirinya demi menguasai waktu. Mungkin seperti Chairil yang ingin hidup seribu tahun lagi, tapi hanya sebatas keabadian kata-kata tanpa tubuh yang nyata. Ia mati dalam kekuasaan waktu. Bukan Milkhan, tentu saja bukan.
Kau pun bertanya, kapankah kau bisa berjalan bahkan berlari di hadapan waktu? Kau diteror oleh waktumu. Kau akan ketakutan terhadap dirimu sendiri. Tapi pertanyaanmu adalah seperti apa ruang dan waktuku?

Bukan milik siapa-siapa, bukan milik Kant yang melihat waktu sebagai forma a priori suatu intuisi murni yang oleh keindraan manusia dijatuhkan pada pengalamannya bersama ruang dan tidak diketahui apakah pengertian itu memang sesuai pada kenyataan yang menaunginya. Bukan seperti Hume yang memandangnya sebagai urutan impresi, atau sekadar seperti Newton yang mendefinisinya sebagai realitas matematis yang menampung gerak substansi kosmik yaitu tubuh kita. Bukan.

Kau pun masih bertoleran dengan waktu, Milkhan. Kalau aku tidak. Waktu memang sengaja ku lepaskan, seperti layang-layang yang sengaja ku lepaskan. Atau kalau aku ini layang-layang, dan waktu adalah orang yang mengendalikanku, aku akan memintanya melepaskanku. Melepaskanku!
Aku sengaja akan memisahkan diri dengan waktuku, Milkhan. Aku sudah muak dengan segalanya yang represif bersama waktu. Aku tidak ingin dikendalikan siapapun, tidak ingin dikendalikan apapun. Dengan itu mungkin aku akan berpikir dan belajar dan membaca buku-buku dengan tenang, santai, dan menikmatinya hingga aku tenggelam, hilang bersamanya. Tapi justru disana mungkin aku malah menemukan diriku. Dengan melepaskan waktuku aku akan belajar tanpa terkendalikan! Tak terkendalikan!

Tapi mungkinkah itu bisa terjadi??......

Waktu dan Kematian 

Di beberapa kemungkinan dalam waktu, kepada takdir manusia melemparkan pertanyaan-pertanyaan. Siapakah aku? Untuk apakah aku ada? Kemana aku pergi setelah ini? Dan mengapa? Apakah ada surga dan neraka? atau purgatori? Apakah ada itu semua?

Mungkin, pernah ada saatnya manusia puas atas perubahan yang meresap hingga setiap milimeter pori-pori tubuhnya, dan usia telah mencapai lima puluh atau tujuh puluh, mungkin saja. Ya, mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan memukul-mukulnya dengan halus namun mampu dengan segala tiraninya, mengisi ketakutan-ketakutan kecil seperti suksesi infinitas yang nyata pada relung hatinya. Tanpa tedeng aling-aling. Manusia seakan telanjang di depan pertanyaan tentang kehidupan dan kematian.

Manusia, dengan keanggunannya menutupi segala yang ia resahkan tentang kematian. Apa yang tampak nyata hanyalah kegelapan dalam tidur tanpa warna-warna cahaya dalam mimpi-mimpi masa kecilnya. Ada batas-batas cukup jelas disana. Manusia tahu, di titik mana ia akan berhenti dan hanya berdiri memandang apa yang ada di punggungnya setelah itu. Waktu seperti lenyap, suatu bentuk subjektif-individual yang berasal dari pikiran.

Ketidak-sempurnaan. Percampuran. Pengalaman. Kebenaran. Esensi. Perpisahan. Pertanyaan. Kisah-kisah yang tak selesai. Jarak. Masa separuh yang ia lewati mungkin hanyalah akan memisahkannya dengan dirinya sendiri. Tidak ada gerak, perubahan, atau perkembangan dalam realitas yang nyata. Maka juga waktu bukan sesuatu yang real.

Apa yang harus difalsafahkan disini? Apa yang harus dibenarkan di atas falsafah itu, Milkhan?

Hanya pengasingan yang menjatuhkan. Dan saat itu manusia akan mengetahui pada apa tanda-tanda keberakhirannya menuju. Masa separuh manusia itu berhenti, menjadi esensi, dan setiap daripada esensi itu datang eksistensi kecil yang tidak ada apa-apanya dari rasa takutnya sendiri. Dan waktu pun seperti modus pikiran yang tidak ada kenyataannya.

Lalu manusia, dari keterpisahannya dengan diri dan kehidupannya bertanya, Apa benar-benar ada kehidupan setelah kematian itu? Jika ada, hidup untuk siapa lagi?

Lagi, jika manusia tak memiliki kesadaran layaknya makhluk lain, itu mungkin bukan masalah. Bukan juga pertanyaan yang bisa dipertanyakan sembari meremas-remas kepala. Atau sembari membaca berjuta-juta buku. Atau sembari menonton imaji-imaji bergambar dalam tontonan dan hiburan kecil di tv. Waktu yang ada terpenjara dalam ruang. Ruang sebagai antitesis Idea. Menjadi semacam roh yang bergentayangan dalam kehidupan kita.

Begitulah Manusia. Memiliki dan memeluk kesadarannya tetapi harus selalu melepas waktu untuk merasa hidup. Bukan seperti saat ia hanya bisa berspekulasi atas apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi semua itu memaksanya memercayai takdir-takdir kosong dalam apologi kering dan langkah olengnya yang setengah kosong.

Milkhan, Manusia dalam permenungannya menyadari apa dan betapa tidak mampunya ia di hadapan takdir. Seolah ia berada dalam titik nadir atas jalanan yang salah ia tempuhi. Merasakan betapa tidak ada lagi yang bisa menunjukkan kemana ia harus berjalan. Dan lagi setelah ini, dimana ia berada. Tidak ada. Dan waktu menjadi substansi unitaris yang takterbatas, abadi, tak bereksistensi, dan takterbagikan.

Rasanya tidak adil bila manusia tidak diberikan pilihan, untuk menyadari sepenuhnya betapa kesepiannya ia di dunia ini....Realitasnya seperti tak diketahui, tetapi menyadari kemungkinan perubahan yang akan terjadi. Menyadari kebaruan-kebaruan dan meresapi segala yang ada. Perubahan itu merupakan distingsi di atas waktu real yang terpahami secara massal. Waktu yang material.

Atau mungkin aku ingin jadi seperti Fosca-nya Simone De Beavoir dalam All Men are Mortal. Yang tak sudi menerima kematian ada. Ad infinitum. Berjalan tak
pernah gontai dalam hidup, menganggap dirinya sendiri sebuah kehadiran yanggrandiosa. Di harap-harap. Beberapa ratus tahun ihidup, mengalami apapun yang ada di dunia. Segala tempat yang disinggahi, penjara purba, kulit gunung, hamparan pasir. Hidup yang penuh pengembaraan. Memiliki anak dan saudara yang semuanya akan menjadi tua dan mati. Dan ia tetap muda. Dan picik.
Ia menatang semua kematian. Siapa yang menantang kematian? Tokoh ala Simone de Beavoir itu, atau sang filsuf sendiri? siapa lagi yang ingin menantang kematian? Aku yakin, sang filsuf justru begitu ketakutan dengan kematiannya.

Tapi sepertinya hanyalah fiksi yang bisa membuat manusia mengabadi. Mortal. Fiksi seakan melawan takdir kematian manusia. Dan ketika itu benar-benar terjadi, apa yang akan dilakukannya setelah itu? Dimana ia memilih tinggal? Bukan di dunia ini pastinya.

Surakarta, 
Di ruang pagi dan waktu sunyi.

kutip : eyelightprincess.blogspot.com

Wednesday, 24 October 2012

‎*Rasa Suka, Rasa Benci & Tertipu*



‎*Rasa Suka, Rasa Benci & Tertipu

Pasai, anak kami, dua tahun empat bulan, percaya diri sekali kalau dia bisa naik tangga manapun yang dia lihat. Coba saja bilang padanya, "Nak, nanti jatuh, tinggi sekali loh tangganya." Wajahnya berubah, tatapan matanya tajam, mulutnya berseru, 'Pasai mau naek tangga! naek tangga!' Setelah negosiasi sedikit, dia akhirnya tetap naik tangga asal mau dipegangin, itu pun setelah mengatur bagaimana tangan bapaknya harus pegang tangan dia. Sebaliknya, dalam kasus yang berbeda, anak kami ini, kadang susaaah sekali disuruh makan. Ada-ada saja alasannya, "Pasai kenyang.", "Mam-nya pahit", "Asem", atau kadang nge-les tingkat tinggi, "Ibuk, pelut Pasai sakit, aduh, aduh." pura-pura pegang perut, minta berhenti makan.

Begitulah. Anak kami ini sama seperti jutaan anak2 kecil lainnya, tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar. Dan namanya juga anak2, apakah dia tahu sesuatu itu buruk atau baik? apakah dia paham, apa2 yg dia suka, boleh jadi amat buruk baginya--membuat celaka seperti naik tangga yg tinggi sendirian, dan sebaliknya, apa2 yg dia tidak suka, boleh jadi amat baik baginya--seperti makan yg lahap masakan lezat Ibu-nya. Rasa2nya, untuk seusianya, anak kami belum tahu mana yg baik dan mana yg buruk baginya.

Anak2 remaja di sekitar kita juga demikian. Iya, bukan? Bukankah sering kalian bertengkar dengan orang tua? Ngotot sekali ingin dibelikan sesuatu, yang kalian sangka baik2 saja, tapi tidak bagi orang tua kita. Sebaliknya, bukankah sering kalian berantem dengan orang tua? Disuruh melakukan sesuatu yg kalian amat benci, tidak seru, bosan, bikin ilfil, tapi bagi orang tua kalian, hal tersebut amat baik dan oke demi masa depan kalian. Apakah kalian merasa apa2 yg kalian suka itu benar2 baik? Dan sebaliknya, yg bikin ilfil itu benar2 buruk? 

Oh tidak, orang2 dewasa di sekitar kita ternyata juga demikian. Tidak terhitung, banyak sekali orang2 yg membenci kenapa dia harus di sini, mengerjakan ini, berkutat dengan hal2 seperti ini, mengomel, mengeluh. Padahal boleh jadi hal itu amat baik baginya, sungguh amat baik. Dan sebaliknya, tidak terhitung, banyak sekali orang2 dewasa yg suka sekali melakukan sesuatu, merasa seru, keren, asyik, nggak masalah tuh, kami tahu batasannya, dsbgnya, dsgnya. Padahal boleh jadi hal itu amat buruk baginya, sungguh amat buruk.

Duhai, dalam urusan ini, sungguh sudah Allah tuliskan dalam kitab suci, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." Maka tidakkah kita mau berpikir sejenak? Orang2 yg dangkal pemahamannya, selalu menilai sesuatu dari kulit luarnya saja, dr permulaan, dikira seru, asyik kali ya (misalnya pacaran), tapi dia tidak paham boleh jadi pacaran itu amat buruk baginya. Sedangkan orang2 yg dalam pemahamannya, selalu menilai sesuatu secara lengkap, dari sisi yg tidak dipikirkan orang, dan tahu persis arahnya menuju kemana, maka meskipun dia benci, bosan, kadang tergoda hendak menyerah, tapi karena dia tahu, boleh jadi ini baik baginya, dia terus bersabar dan berdoa. Maka akan datang jodoh yg terbaik baginya. 

Tentu saja hal ini tdk berlaku hanya utk rumus mencari jodoh--sy gunakan misal ini, karena banyak diantara kalian yg lebih nyambung jika itu yg dibahas. Hal ini juga berlaku utk semua bentuk rasa suka dan rasa benci yg kita miliki. Pekerjaan kita saat ini. Sekolah/kuliah kita saat ini. Larangan dan perintah orang tua. Kenapa kita sekarang ada di sini, melakukan ini, dsbgnya, dsbgnya. Rumus ini juga berlaku.
Maka selalu rajin2lah menilai. Semoga kita tidak termasuk orang2 yg tertipu.


-Darwis Tere Liye-


sumber : http://www.facebook.com/darwistereliye/posts/451815401535700

Monday, 16 July 2012

Aku Ingin


 Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

(taken from "Hujan Bulan Juni" by Sapardi Djoko Damono)
kutip : http://zjannah.blogspot.com

Saturday, 14 July 2012

Jeda Hati



seringkali langkah terhenti ketika di tengah perjalanan, mungkin hati membutuhkan jeda, jeda yang berkepanjangan agar lelah melebur menjadi ketenangan yang damai tanpa ada bisikan atau cerita-cerita yang menggantung tak tentu arah yang membuat hati semakin bertambah gelisah mencari jawaban, semakin memandang jauh ke depan semakin terlihat jelas bahwa hati membutuhkan jeda. 

jeda...sampai kapankah jeda itu?akankah jeda yang berkepanjangan membuat hati kembali tentram tanpa ada rasa gelisah yang mendera, itulah hati (qalb) bisa berbolak balik, kadang  rapuh terkadang  kuat dan tegar, siapa yang bisa menebak hati?, tak ada yang bisa menebak isi hati seseorang.......

lelah....penat mendera hati, semakin hari semakin menjadi, hati.....aku butuh jeda, rebahkan tubuhmu di tengah hamparan yang luas nan hijau hirup dalam-dalam udara sejuk hingga menembus relung hatimu, apa yang kau rasakan?, dalam jedamu berikan aku siraman zikir-zikir indah, latunan ayat-ayat suci yang menenangkanku, hingga rasa cemas itu lenyap tak berbekas..

aku..aku...hanya segumpal daging yang mudah terbolak-balik, mudah berubah-rubah, bersihkan aku dari segala penyakit yang bisa menggerogotiku, yang bisa membinasakan ku, berdoalah semoga Allah merahmati ku dengan segala hidayahnya, sehingga aku bisa menentramkan mu...

jeda....jeda aku butuh jeda....berikan aku jeda walaupun sesaat, dalam jedaku teruslah kau lantunkan zikir-zikir itu hingga aku kuat tak tergoyahkan waktu, seperti jarum jam yang terus berputar menghitung masa yang tak terbatas....

“Ketahuilah bahwa didalam tubuh manusia itu terdapat segumpal daging. Apabila baik daging itu, maka seluruh tubuh menjadi baik. Dan apabila rusak daging itu, maka akan rusak seluruh tubuh. Sesungguhnya daging dimaksud adalah hati.” Maka wajib untuk memperhatikannya dan semaksimal mungkin untuk memperbaiki dan menguatkannya. Hati mudah berubah-ubah dan banyak mengalami gangguan, hingga Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya hati itu lebih cepat pergolakannya dari pada buih air.” Karenanya Nabi SAW memperbanyak berdoa, “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamaMu.”

Rasulullah juga bersabda: “Sesunguhnya hati manusia itu berada di antara dua jemari ar-Rahman. Apabila Dia menghendaki niscaya akan menegakkannya. Dan jika Dia menghendaki niscaya akan membengkokkannya.” Nabi SAW ketika bersumpah dan bersungguh-sungguh dalam sumpah itu, beliau mengucapkan, “la, wamuqallibil qulub” (“Tidak, demi Tuhan yang mebolak-balikkan hati”).

Bahwasanya hati tak ubahnya seperti cerminan diri, berhenti sejenak untuk melapangkan hati yang sedikit demi sedikit menyempit karena urusan duniawi, berfikir dahulu saat sebelum melakukan sesuatu (apakah sudah sesuai dengan ahti / nurani) tapi seringkali upaya untuk membohongi hati sendiri demi suatu yang lain, ya hanya Tuhan yang mengetahui itu kebenaran atau keabstrakan. Hentikan sejenak perihal kosong itu dan mengisi nya dengan dzikir semoga menjadi pribadi yang lebih baik dan selalu bertindak sesuai hati nurani yang mengarah ke kebaikan kebaikan Rasulullah, Amiin ^_^

Wednesday, 21 March 2012

Untuk (Tuan) Presiden

Reblog dulu yah :D
Ini karena kegalauan semua pendekar di jalanan, mengenai tanggal 1 april
yang biasanya ketika mendekati tanggal muda hati akan bersorak riang gembira. Tapi kurasa mendekati tanggal 1 april ini malah semakin malas. Hmm, apa mungkin ini Jebakan april mop dari pemerintah yah ?
Dialah seorang Fahd Djibran yang beberapa hari yang lalu menuliskan surat untuk (Tuan) Presiden, ketika pertama kali saya membacanya dan berkomentar masih sedikit yang berkomentar disana.

Tapi hari ini ketika saya berkunjung kembali ke blog beliau, Jreng, banyak sekali yang berkomentar. Bahkan Kang Fahd juga menulis lagi edisi selanjutnya (#UntukTuanPresiden ) dan mengucapkan banyak terima kasih pada pemirsa Dunia Maya, yang sudah membantu menyebarkan. --Semoga (Tuan) Presiden bisa membacanya-- ahh, tapi beliau terlalu sibuk untuk membaca *curhatan* dari rakyat ini...

Read This :
Untuk (Tuan) Presiden

Related Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...