“Bagaimana aku lewatkan masa itu aku tak tahu,”katanya, “yang
aku ketahui hanyalah bahwa masa itu mengerikan”.
Banyak curahan hati Kartini yang tertuang di goresan-goresan
surat yang ditulis untuk Stella. Salah satunya adalah kisahnya saat Kartini
mulai kehidupan barunya sebagai gadis
remaja yang tumbuh dewasa. Kehidupan ningrat dan jawa mengharuskan dirinya
seperti hidup di sangkar namun bukan emas. Dipingit!! Kenapa bukan sangkar
emas, karena nggak bisa twitteran hehehe. Kartini yang gila ilmu tidak mau
kalah dari abang-abangnya yang bisa bersekolah tinggi sampai ke Eropa,
sedangkan ia hanya bisa terkurung di antara empat tembok besar dan tentunya
tembok-tembok inilah yang akan menjadi dunianya saat itu.
Tahun 1892, sedikit demi sedikit Kartini memperoleh
kebebasannya, Kartini mulai sering terlibat dan menghadiri berbagai kegiatan social.
Kehidupannya bukan lagi empat tembok besar tapi dunia nyata yang bersentuhan
dengan kehidupan masyarakat pribumi lainnya. Salah satu aktivitas Kartini
adalah menghadiri asosiasi antara pembebasan dan pentahbisan gereja umat
Nasrani. Dari sinilah Kartini mulai menghargai agama Nasrani.