Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Wednesday, 23 October 2013

[BeraniCerita #32] Nina



“Kapan terakhir kali mengajak Nina si bungsu main ke taman? Kapan terakhir kali Mama memasak buat orang rumah? Kapan terakhir kali Mama pergi jalan-jalan bersama kami?”

Bu Layla diam saja mendengar Ryan mencerca semua yang sudah tidak pernah dilakukan lagi olehnya. Untuk mengalihkan perhatian, Bu Layla pura-pura berbicara dengan Sofi di depan televisi sambil tidur-tiduran.

Tuesday, 18 June 2013

Elena #1

Elena..
Elena yang lemah lembut ucap diego,,
aku bertemu elena dalam perjalananku setahun kemarin, pergi ke maccu picchu, Peru dengan badan menggigil, elena meyelimutiku, setelah aku bangun entah dia menghilang bersamaan desiran angin sejuk pegunungan. 2 bulan kemudian ketika aku sampai di sao paulo dan berniat mengunjungi Mirante Do Vale bangunan tertinggi di brazil, aku terjebak kemacetan di tengah kota, tak tau arah, tapi tiba - tiba Elena meraih tangan ku dan menunjukkan jalan yang benar, di tengah keramaian itu genggaman Elena lepas, dia menghilang lagi. Dari puncak ketinggia Mirante Do Vale, kulihat setiap sudut kota Sao Paulo berharap menemukannya di sudut dan perempatan kota. Seminggu berlalu entah apa yang membuat ku memilih Colombia menjadi tempat tujuan ku selanjutnya, tak ada yang menarik disini, hanya cowo - cowo tampan dengan badan tinggi besar dan kulit putih. Tak ada yang menarik lagi,

What ? ini halusinasi atau apa, aku melihat penjual dorayaki keliling di sekitar jalanan Caracas.
Atau mungkin karena favorit ku membaca manga jepang doraemon yang amat menyukai kue bundar itu ?
Penjual itu menengok ke arahku, itu Elena

Elenaa.. Elena.. teriakku

Dia menghilang lagi bersamaan dengan trem yang tiba - tiba saja meluncur dari arah timur jalanan caracas, Elena kapan kita bertemu lagi ?


Friday, 7 June 2013

Surat untuknya


"Untuk Kapten Bhirawa"
Begitulah tulisan kapital yang tersemat di sudut surat itu, surat cinta berwarna biru beraroma bunga krisan yang kutemukan di kursi pojokan di Taman Mundu depan Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya.
Ya beberapa hari lalu ketika aku berjalan-jalan malam dengannya, kami sempat mengobrol lama di kursi panjang Taman Mundu sambil melihat gemerlap air mancur yang berwarna-warni. Sempat kulihat sekitar dan menanyakan apakah surat ini milik mereka. Karena sudah malam kami pulang.
Tak sengaja esoknya surat cinta itu terbuka dan terbaca Kalimat pertama, "Kapten aku ingin menemuimu disini, di kursi ini biasanya kamu duduk dan tersenyum. Tunggu aku di bulan purnama saat air mancur ini berwarna biru.. Tunggu, tunggu..." ahaaa itukan besok tgl 15 dalam bulan jawa bulan purnama ! "Lunaaa" teriakan ini membuatku terjingkat dan buru-buru menutup surat cinta itu, ahh tak seharusnya aku membuka surat cinta yang sepertinya misterius itu.
Malamnya, sepulang menjemputnya dari Kampus yang tak jauh dari taman itu, kusempatkan mampir dan meletakkan surat cinta itu kembali ke tempatnya. Well, tak disangka-sangka di kursi itu duduk Pria tinggi berambut cepak membawa seikat Bunga Krisan dan tentunya sambil tersenyum. Ahh itu Kapten Bhirawa ?! Inginnya kuberikan surat cinta itu, tapi takut malu, akhirnya kutitipkan pada seorang wanita yang tak sengaja berjalan di sampingku, tinggi, berambut cepak, punya lesung pipi, berbadan tegap. Setelah kuberikan dia membaca untuk siapa surat itu, dia hanya tersenyum, dan menganggukan permintaan ku, lalu berjalan, tapi tidak berjalan ke pria itu malah berjalan ke kanan ke tengah-tengah air mancur itu diam disana dan seketika menghilang. Oh no ! Suratnya ? Kapten Bhirawa ? ahhh.
Tak banyak pikir aku langsung menghampiri 'Kapten Bhirawa' kuceritakan panjang lebar dan lalu seketika itu aku terhentak, dia bukan Kapten Bhirawa. Lalu bunga krisan ? Kursi itu ? senyuman itu ?
Lalu aku melihat air mancur yang biasanya berwarna ungu, hijau, merah bergantian, kali ini berwarna biru lama, pria itu berlari ke tengah air mancur dan wanita tegap itu ada disana, pria itu memeluknya dan mengucapkan "Kapten Bhirawa ku"
"Dia polisi dan wanita itu seorang pelaut, yang satu abis berlayar ke New York yang satu abis tugas di kalimantan, dan tempat ini adalah tempat yang spesial untuk mereka, air mancur biru itu dulu mereka prewedding disana, kegigihannya sebagai perempuan membuatnya dipanggil kapten bhirawa.. ini kepulangannya, kepulangan kapten bhirawa nya"
Ohh, ujar seorang Ibu penjual sinom yang sudah berumur tapi nampak hapal betul tempat ini bahkan pengunjungnya.






Related Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...